Taruhan Cinta
Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh berdiri. Aku terduduk diatas trotoar yg telah berkali-kali ku pijak sejak aku masuk di kampus ini. Rasanya semangatku mulai kendor, tak seperti awal aku menggebu ingin kuliah dan mendapat gelar Sarjana Filsafat Islam. Mungkin niatku dari semula telah salah kaprah, hanya sekedar ingin punya embel-embel di belakang namaku. Tapi apa peduliku, itu menjadi sebuah gengsi tersendiri.
“San,” tiba-tiba seorang menepuk pundakku dari belakang, sontak ku menatap ke arahnya.







